GRP – The First Carbon Steel Producer to Achieve Green Label Indonesia Certification


SELAMAT! kepada PT Gunung Raja Paksi Tbk sebagai pionir dari produsen baja karbon atas usaha & langkah positif dalam memproduksi produk baja karbon yang ramah lingkungan sehingga berhasil memperoleh sertifikat Green Label Indonesia (GLI) dengan predikat GOLD untuk 4 produk baja karbon. 

 Bertempat di kantor PT Gunung Raja Paksi Tbk sertifikat GLI diserahkan langsung oleh Bapak Yudiono selaku Chairperson Green Product Council Indonesia kepada Bapak Fedaus, Presiden Direktur PT Gunung Raja Paksi Tbk beserta jajaran manajemen (05/03/2024) Pencapaian sertifikasi ini tidak hanya mencerminkan kualitas produk baja, tapi juga komitmen PT Gunung Raja Paksi Tbk terhadap kelestarian lingkungan dengan metode produksi yang berkelanjutan. Semoga PT Gunung Raja Paksi Tbk dapat terus berinovasi, tetap menjaga konsistensi produksi dan menjadi contoh bagi produsen baja karbon lainnya dalam memproduksi produk yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Kegiatan kuliah tamu dari GPCI pada Program Studi Pendidikan Arsitek (PPAr) di Universitas Multimedia Nusantara

Dalam menjalankan visi dan misi organisasi, GPCI secara berkala terus mengadakan sosialisasi dan edukasi di lingkungan kampus tentang pentingnya penggunaan produk yang ramah lingkungan.

Dalam kesempatan kali ini, GPCI memenuhi undangan dalam kegiatan kuliah tamu di Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Senin 5 Februari 2024

Dengan mengusung tema "Building Construction Materials and Methods", materi kuliah dari GPCI disampaikan langsung oleh Chairperson, Bapak Yudiono dan Vice COO, Bapak Dahlan dalam bentuk pemaparan materi dan diskusi bersama para rekan Arsitek dari Program Studi Pendidikan Arsitek (PPAr) dan mahasiswa dari Program Studi Desain Interior.

Sick Building Syndrome dan Pentingnya Memilih Material Bangunan untuk Rumah Kita

Sick building syndrome adalah gejala yang timbul pada kesehatan seseorang atau sekelompok orang ketika berada di suatu ruangan. Gejala ini dapat berupa iritasi pada mata atau kulit dan mempengaruhi pernafasan seperti iritasi selaput lender dan asthma. Sindrom ini muncul ketika berada di dalam bangunan dan hilang secara alami ketika tidak berada di dalam bangunan tersebut. Seseorang rentan mengalami sick building syndrome apabila kualitas udara di suatu ruangan rendah.

Menurut laporan WHO (1997) sick building syndrome terjadi akibat buruknya kualitas udara dalam ruangan. Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas udara di suatu ruangan diantaranya kualitas ventilasi, zat pencemar kimia dari dalam dan luar ruangan, zat pencemar biologi, faktor fisik lingkungan, pencahayaan, kebersihan udara, sirkulasi udara.

Kualitas udara ruang bisa rendah karena banyaknya kontaminan di udara. Kontaminan ini bisa berasal dari material bangunan terpasang, peralatan rumah tangga, bahan pembersih, pakaian, cat, adhesive, sealant, kertas dan karpet. Benda-benda ini dapat mengeluarkan serat, fiberglass,debu, formaldehid dan senyawa mudah menguap lainnya. Selain itu, sirkulasi udara yang tidak baik dan kelembapan dapat menyumbang pertumbuhan mikroba di suatu ruangan menjadi penyebab udara di dalam ruangan tercemar. Kontaminan ini dapat mengganggu kesehatan penghuni suatu bangunan karena dapat menurunkan imunitas, menyebabkan infeksi pada saluran pernafasan hingga iritasi kulit.

Sementara menurut penelitian EPA, rata-rata manusia berada di dalam ruangan sekitar 90%. Tidak sedikit manusia berpotensi mengalami sick building syndrome. Sebelum sick building syndrome terjadi pada kita, industri dan masyarakat memiliki perannya masing-masing.

1. Industri

Industri memiliki peran penting dalam mencegah sick building syndrome. Kandungan bahan kimia dalam suatu produk merupakan salah satu faktor penyumbang penyebab terjadinya sick building syndrome. Industri berperan menyediakan material bangunan dengan kandungan yang aman bagi kesehatan dan lingkungan seperti menciptakan produk yang rendah VOC, mengeliminasi bahan berbahaya seperti asbes, logam berat serta bahan berbahaya lainnya.

2. Masyarakat

Masyarakat menerapkan praktik ramah lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini dapat dilakukan dengan membersihkan rumah secara rutin, mengurangi pemakaian bahan kimia berlebih dalam rumah seperti cairan pembersih, melakukan maintenance secara berkala pada pendingin udara, dan menyimpan bahan kimia pembersih atau larutan yang mudah menguap dengan tepat.

Selain itu utamakan memilih bahan bangunan rendah VOC seperti memilih cat, adhesive, sealant dengan formaldehid dan voc rendah.

Pilihlah produk bersertifikasi ramah lingkungan seperti sertifikasi Green Label Indonesia. Produk bersertifikat Green Label Indonesia merupakan bentuk komitmen industri dalam menyediakan produk-produk yang lebih ramah terhadap Kesehatan dan lingkungan. https://gpci.or.id/certified-product/

Mengirim Pesan Berkelanjutan Dari Ibu Kota Baru

Dalam rangka memperingati Hari Bangunan Indonesia 11 November kami mengundang anda untuk mengikuti Webinar yang disiarkan langsung dari Titik Nol IKN, Kalimantan Timur, dengan tema “Mengirim Pesan Keberlanjutan dari Ibu Kota Baru”.

Webinar ini akan membahas mengenai berbagai initiative untuk mewujudkan konstruksi berkelanjutan dan juga regulasi yang berkaitan dengan konstruksi berkelanjutan di Indonesia. 


Webinar diselenggarakan pada:

Jumat, 11 November 2022

Waktu : 07.30 WIB - 11.30 WIB atau 08.30 WITA - 12.30 WITA 

 

Silahkan mendaftar pada link dibawah ini :bit.ly/webinarHBI

(Link zoom webinar akan dikirimkan ke email/whatsapp yang didaftarkan).


Ayo Bersinergi Untuk Keberlanjutan Konstruksi!

×

Hello!

You may contact us by WhatsApp or send email to info@gpci.or.id

× How can I help you?